Thursday, 19 January 2012

arung palakka petta lampe gemme

Arung Palakka: Sebuah Renungan tentang Filsafat Sejarah Bugis Abad ke-17
Oleh: Mukhlis PaEni

Pada tahun 10 Pebruari 1899, Jenderal Van Heutz menyerang Meulaboh. Pertempuran sengit tak terhindar lagi, Teuku Umar tertembak dan mati sahid di medan perang. Arwahnya dijemput oleh tujuh bidadari. Di alam sana tempatnya yang abadi, ia dikawinkan dengan Ainal Mardiah bidadari yang amat sempuma, itulah pemberian Allah sebagai hadiah perang sabil.
"Nyawa tubuh dengan harta,
belanjakan untuk perang sabil.
Sungai-sungai Kalkautsar sangat indah, pembagian
Muhammad karunia Rabbi.
Penghulu kita memberi pada ummat, yang berkhidmat berperang sabil.
Minum seteguk rasa lain,
semakin lesat tak terperi.
Dijadikan isteri bintang kejora.
Cantik jelita sang Bidadari"[1]

Teuku Umar (1854-1899), Sayidi yang legendaris ini dikenal sangat kontroversial dalam berbagai tindakan, jalan hidup dan taktik bertempurnya selama perang Aceh. Berkali-kali ia berperang di pihak Sang Kafir. Kemudian lari lagi ke pihak Aceh, menyeberang lagi dan lari lagi. Ia juga diangkat sebagai penasehat dan orang kepercayaan Belanda dalam Perang Aceh. Ia menyerang patriot-patriot Aceh dan korban pun berjatuhan akibat ulahnya. Karena sepak terjangnya itu ia dicap sebagi anjing penghianat yang amat laknat, ketika ia gugur di medan perang berakhirlah petualangannya yang kontroversial itu. Peluru Beulanda Kaphe (Belanda Kafir) merenggut jiwanya. Ia gugur sebagai panglima perang Aceh yang sejati, dan ketika jasadnya dikebumikan di samping masjid di Kampung Mugo, orang-orang Aceh menyebutnya Teuku Johan Pahlawan. Tuanku Pahlawan yang perkasa.

Jika kita menyimak alur perjuangan Teuku Umar dan menghubungkannya dengan hikayat perang sabil yang menjadi spirit perang Aceh, maka akan tampak bahwa ide yang mendasari keterlibatan Teuku Umar dalam perang Aceh adalah perang melawan Kaphi "Sabilillah" dan tujuan akhirnya adalah "Sahid". Oleh Karena itu, bagi masyarakat Aceh hanya ada satu penilaian yang primer, Sahid dan jalan menuju Sahid adalah Jihad Fi Sabilillah. Dalam keadaan yang demikian, faktor-faktor sosial, ekonomi, politik dan lain-lain menjadi faktor sekunder. Keadaan perang yang berkobar ketika itu melahirkan kegiatan berpikir mengenai Hukum Islam yang berkaitan dengan pokok hubungan antara kaum muslim dan yang bukan muslim. Seorang Islam wajib merebut negerinya dari kekuasaan musuh apalagi musuh itu adalah Beulanda Kaphe (Belanda Kafir), jadikanlah pekerjaan mengusir musuh itu sebagi fardhu ain, begitulah fatwah ulama.

Dari kisah Teuku Umar sang Johan Pahlawan, kita dapat mengetahui bahwa, bagi orang Aceh, perjalanan sejarah tak lain adalah kisah tentang jatuh bangunnya anak manusia yang senantiasa berubah dan dalam fluktuasi itu pintu taubat dan maaf selalu terbuka, karena itu yang terpenting dan di atas segala-galanya adalah realitas dari akhir perjalanan itu, sahid.

Kalaulah kisah Teuku Umar dalam Perang Aceh digunakan sebagai imsal bagi pijakan imajinasi kita untuk menyingkap nuansa keterlibatan Arung Palakka dalam Perang Makassar 1660-1669, maka kitapun akan mencoba memahami apa sesungguhnya yang terjadi ketika itu dan dari kejadian itu melahirkan kegiatan berfikir apa. Kegiatan berpikir itulah yang paling penting diketahui sebagai suatu upaya akademis untuk menempatkan suatu kejadian pada tempat yang sesungguhnya. Pemahaman terhadap hal tersebut sangat penting artinya dalam memahami dasar filsafat dan etika Bugis yang menguasai jalannya sejarah ketika itu, itulah yang disebut "jiwa jaman" (zeitgeist).

Bagi orang Bugis hidup ini adalah harga diri (siri‘) yang harus selalu dipelihara dan dipertaruhkan agar keseimbangannya dengan yang lain senantiasa terjaga. Apabila seseorang dibuat siri‘ (masiri‘) yang menyebabkan harga dirinya terganggu atau hilang, maka oleh masyarakat sekitarnya ia dituntut untuk mengambil langkah menebus diri dengan menyingkirkan penyebab siri‘ yang merusak keseimbangannya sebagai manusia, karena itu ia wajib menyingkirkan penyebab siri‘ di matanya sendiri dan di mata masyarakatnya. Masyarakat mengharapkan seseorang yang telah dibuat siri‘ (masiri‘) mengambil tindakan karena dirasakan lebih baik mati mempertahankan harga diri (mate ri siri‘ na) daripada hidup tanpa harga diri (mate siri‘). Mati mempertahankan siri‘ adalah mate rigolai, mate ri sangtangi atau menjalani kematian yang manis.

Ketika seseorang telah melangkah mengambil tindakan untuk mempertahankan dan merebut harga diri (siri‘ na), maka proses awal memasuki dunia sejarah dari seseorang telah dimulai. Bagi orang Bugis masa menyejarah inilah yang sangat penting. Jika Teuku Umar memasuki dunia sejarah melalui Perang Aceh dan berhasil menjangkau tujuan akhir perjalanan sejarah (dalam pandangan masyarakatnya dan pandangan filsafat sejarah Aceh, Sahid), maka Arung Palakka telah mengawali keterlibatannya dalam menyejarah, melalui perang Makassar dengan memasuki pintu sejarah melalui pintu yang paling hakiki menurut filsafat sejarah Bugis, yakni menegakkan siri‘ (harga diri). Hal ini sangat penting karena siri‘ adalah awal segala-galanya. Pemulihan dan penjagaan siri‘ adalah pula akhir dari perjalanan sejarah bagi orang Bugis.

Beberapa saat setelah bobolnya benteng Somba Opu 21 Juni 1669 yang menandai runtuhnya Kerajaan Gowa, Arung Palakka bertanya kepada orang-orang Bone (Bugis):

"Wahai orang Bone, kita telah diberi oleh Tuhan yang kita minta, dan sekarang apa gerangan yang ada dalam pemikiranmu. Orang Bone mengatakan, kami ingin membalas perlakuan orang-orang Gowa (Makassar) terhadap orang Bone (Bugis)". Bertanya pula Arung Palakka kepada orang-orang Bone: Sewaktu kalian berperang, apa yang kalian inginkan dalam hati, yang kami inginkan kata orang Bone ialah mengalahkan dan akan membalas tindakan dan perbuatan orang-orang Gowa terhadap kami. Arung Palakka berkata yang mana lebih baik jika kalian yang membalas atau Tuhan Yang Maha Kuasa, dan orang Bone pun menyerahkan pembalasan itu kepada Tuhan"

Melalui pernyataan yang luhur ini tak dapat diragukan lagi, bahwa keterlibatan Arung Palakka dan orang-orang Bone dalam perang adalah pemulihan harga diri, Keduanya diikat oleh satu hubungan emosional yang amat dalam, pésse.

Apakah yang terjadi kemudian setelah itu, satu periode/babak sejarah Sul-Sel berakhir, dan babak baru dalam kronologi sejarah Sulawesi Selatan siap memasuki sebuah era yang baru, era kekuasaan asing (VOC). Satu era sejarah yang ditandai dengan kisah tentang jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara termasuk Gowa. Kehadiran Arung Palakka adalah realitas sejarah yang dianggap sebagai awal bagi satu babak baru dalam percaturan politik dan kepemimpinan di Sulawesi Selatan yang sudah berjalan cukup lama, sesuatu yang biasa dan akan terus berlangsung dalam sejarah. Setelah kita menutup satu era periode sejarah dalam kenangan waktu, maka kitapun memasuki era Arung Palakka. Era ini sangat penting, tidak hanya bagi orang-orang Bone (Bugis), tetapi bagi seluruh masyarakat Sulawesi Selatan. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan era Arung Palakka adalah era penataan kembali tatanan kehidupan masyarakat setelah melalui periode perang yang panjang. Pertanyaan-pertanyaan sejarah yang riil. Bagaimana struktur masyarakat dan kekuasaan ketika itu, kemajuan sosial yang dicapai ketika itu, bagaimana perkembangan budaya dan pengembangan keagamaan ketika itu. Sampai di mana tingkat perkembangan ilmu pengetahuan ketika itu, bagaimana hubungan internasional yang berlangsung. Bagaimana dengan kekuatan basis ekonomi masyarakat, bagaimana pandangan dunia intemasional ketika itu, bagaimana hak-hak asasi manusia dijalankan dan lain-lain. Persoalan-persoalan ini perlu diketahui, perlu dibicarakan, karena jawabannya adalah bagian yang paling penting untuk mengetahui apakah masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) mampu menjaga siri‘-nya dalam era sejarah yang baru itu atau sebaliknya bahwa di era yang baru itu masyarakat Sulawesi Selatan sudah kehilangan siri‘ seiring dengan kekalahan Gowa dalam perang Makassar. Sejarah pada dasarnya bukanlah hanya hikayat seseorang, melainkan riwayat masyarakat yang penuh dengan berbagai rona dalam dimensi-dimensi; sosial, budaya, agama, ekonomi, sastra, filsafat, politik, birokrasi, seni, undang-undang, adat istiadat, mistik, ritual, simbol-simbol, hak-hak asasi dan banyak lagi. Semua itulah yang memberi nuansa bagi harga diri orang-orang Bugis-Makassar ketika itu.

Arung Palakka telah mengantar masyarakat Sulawesi Selatan memasuki suatu era baru dalam babakan sejarah dengan penuh perjuangan, dan generasi sesudah itu seringkali hanya asyik bercerita dan menjelaskan secara rinci dan terkadang emosional tentang keterlibatan Arung Palakka di awal sejarah dalam Perang Makassar. Sementara uraian tentang apa yang dilakukan dan yang dicapai oleh masyarakat sesudah itu tidak banyak dibicarakan. Dewasa ini orang-orang Bugis-Makassar diperhadapkan untuk menjelaskan semua itu dengan jujur. Hal ini sangat penting, karena dari sini dapat diketahui bagaimana upaya yang dilakukan oleh orang-orang Bugis-Makassar mempertahankan siri‘. Melalui suatu upaya yang cermat dalam memasuki pergantian zaman dengan baik sehingga sekalipun Gowa hancur, Tosara ibu negeri Wajo di bumi hangus dll, orang Makassar-Bugis yang terlibat dalam perang merasa tidak kehilangan siri‘ (mate siri‘). Lihatlah misalnya bagaimana kisah keterlibatan Arung Palakka dalam kancah Perang Makassar, dituturkan dalam Sinrilik Kappala Tallumbatua. Satu penjelasan yang sengaja direkayasa untuk konsumsi masyarakat desa, dan orang-orang Makassar pedalaman. Bagaimana persepsi masyarakat desa (mayoritas) tentang Perang Makassar, tentang Kerajaan Gowa dan tentang Arung Palakka, sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan persepsi istana, raja-raja, para bangsawan dan kalangan atas tentang Perang Makassar dan Arung Palakka. Persepsi ini juga berbeda dengan yang digunakan oleh sejarawan-sejarawan Barat atau didikan Barat yang hanya melihat abad ke-17 hanya berisi pertentangan antara Kompeni (VOC) dengan raja-raja lokal, dalam rangka persaingan politik ekonomi, dan penguasaan kontrol terhadap jalur perdagangan.

Jika kita mau mencoba meninggalkan cara pandang sarjana Barat tentang ide perang Makassar yang bertemakan persaingan ekonomi itu dan mengamati satu persoalan micro historis yang terletak jauh di bawah permukaan sejarah, di sana akan menemukan banyak tema, yang non ekonomis sifatnya, yang justru menentukan jalannya sejarah, tema-tema itu adalah tumpukan kegelisahan masyarakat di satu zaman. Ia bisa saja berwujud kebobrokan kontrol birokrasi, pelanggaran hak-hak azasi manusia, rendahnya kualitas manusia, lemahnya perekonomian negara, korupsi di antara para pejabat, penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab dan banyak lagi. Persoalan-persoalan semacam ini terbenam di bawah arus sejarah politik yang ketika itu di abad ke -17 didominasi oleh persaingan ekonomi antara Gowa dengan VOC.

Kalau kita mau mencoba meninggalkan peristiwa macro, dan membicarakan berbagai tema yang berada di bawah permukaan sejarah politik dan ekonomi, maka akan tampak betapa berbagai ragam dan nuansa kesejarahan yang kita temukan. Jika kita membaca sejarah Indonesia seperti apa yang kita ketahui sekarang bahwa Belanda (VOC) adalah satu imperium dagang yang sangat besar di dunia abad ke-17 dan kedatangannya di Nusantara ini tak terlepas dari nafsu ekonomi dagang dan kekuasaan ekonomi, tetapi bagaimana masyarakat desa, rakyat kecil melihat/memahami kedatangan Belanda, sangat berbeda. Mereka memiliki persepsi yang berbeda. Mereka tidak mengenal percaturan politik, persaingan ekonomi, jalur dagang, dll. Yang mereka tahu Belanda datang dan mereka merasakan tatanan tradisionalnya terusik. Ada yang berusaha melawannya secara fisik, ada yang hanya melawannya dengan prinsip, ada yang terpaksa menerimanya dengan pasrah dan ada pula yang menerimanya sebagai suatu kewajaran. Sebagai contoh dikisahkan dalam Serat Baron Sahendher sebuah pseudo History (Jawa) "sejarah semu" yang juga biasa disebut sebagai legendariry history atau legenda sejarah. Dalam Serat Baron Sahendher diceritakan bahwa sesungguhnya kedatangan Belanda ke Jawa adalah sebuah kewajaran yang harus diterima :

Tersebutlah dalam Serat Baron Sahendher seorang wanita cantik bernama Dewi Anuranggang. Karena kecantikannya, ia diperistrikan Sultan Jakarta, akan tetapi Sultan Jakarta tak kuasa menghadapi istrinya, karena setiap kali akan ditiduri memancar api dari tubuhnya. Anuranggang dibuangnya dan kemudian ia dipungut oleh Sultan dan mengalami nasib yang sama dengan Sultan Jakarta. Anuranggang dikembalikan pada Sultan Jakarta dan kemudian ia dijual kepada Baron Sukmul seorang anak pedagang kaya dari Gunung Kurbin di Spanyol[2] dengan tiga buah meriam, dua di antaranya ialah Ki Gunturgeni, Ki Pamuk. Baron Sukmui kemudian menjadikan Dewi Anuranggang sebagai istri tercinta dan membawanya pulang ke Eropa. Di sanalah Anuranggang melahirkan seorang anak yang diberi nama Murjangkung. Murjangkung kemudian setelah dewasa merasa dirinya berbeda dengan masyarakat di sekelilingnya di Eropa dan ketika ia tahu bahwa ibunya adalah orang Jawa yang dulu disia-siakan oleh Sultan Jakarta dan Sultan Cirebon, Murjangkung kemudian berangkat ke Jakarta untuk membalas dendam sakit hati ibunya kepada Sultan Jakarta dan Sultan Cirebon.[3]

Karena itulah ketika Belanda mulai menanamkan kekuasaannya di Batavia, rakyat menerimanya sebagai sesuatu yang wajar sebagai hukuman Sultan Jakarta atas perlakuannya kepada Dewi Anuranggang karena bagi orang Jawa Murjangkung tak lain adalah Jan Pietersz Coen: Gubemur Jenderal VOC yang pertama di Batavia.

Serat Baron Sakender memang sengaja diciptakan mengikuti alam pikiran orang Jawa pedesaan. Agar mereka ikhlas menerima kehadiran Belanda sebagai takdir, sebagai balasan atas kesewenang-wenangan rajanya yang menginjak-injak hak azasi manusia.

Kalau kita melihat bagaimana Sinrilik Kappala Tallumbatua diciptakan sebagai Serat Baron Sakender yang dikarang untuk memberi pemahaman kepada rakyat pedesaan tentang kehadiran Belanda sebagai suatu kewajaran. Maka Sinrilik Kappala Tallumbatua pun digubah sebagai suatu penjelasan moral kesejarahan kepada orang-orang Makassar agar mereka menerima kekalahan Kerajaan Gowa sebagai suatu kewajaran sejarah sebagai takdir (taka dere) atas kesewenangan-wenangan raja pada hak azasi manusia, sedang perbuatan Arung Palakka digambarkan sebagai seseorang yang tertimpa duka yang amat dalam, dan itu adalah sare atau were (takdir). Namun demikian sare atau were masih bisa diperbaiki melalui upaya, usaha dan kerja keras. Karena itulah apapun yang dilakukan oleh Arung Palakka dalam menyejarah adalah bagian dan upayanya memperbaiki were yang diterimanya, dan dijalaninya dengan tabah dan penuh kegigihan melalui apa yang disebut Mattunru toto.

Bagi orang Aceh, persoalan yang dihadapi Teuku Umar dan masyarakat Aceh yang religius, dan fanatik dalam perang Aceh tidak dianggap sebagai perang karena persaingan ekonomi dan kontra kekuasaan antara Aceh dan Kolonial Belanda, melainkan Sabilillah melawan Kafir. Bagaimanapun juga Belanda adalah Kaphe. Pertentangan ekonomi dan kontra kekuasaan serta berbagai faktor lainnya, adalah tema-tema yang larut dalam Sabilillah. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan dalam proses sejarah tidak terlalu penting, sebab bagi masyarakat Aceh yang fanatik itu penilaian terakhirlah yang menentukan, sahid.

Menghadapi perang expedisi penaklukan di berbagai pelosok negeri kita, expedisi kolonial ini melarutkan semua tema yang ada di seputar kedatangan Belanda dalam siri‘ dan sahid secara bersama. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya perlawanan yang dilakukan di awal abad ke-20 di Sulawesi Selatan. Keperkasaan dan kegigihan itu disenandungkan dalam berbagai nyayian perang, (elong osong). Elong osong besse tangelo, mata essona Bulo-bulo, osonna I Mandavini Petta Mapute Isie, osonna I Patimbani Dg Maketti Arung Patimpeng. Osong lai-lainna Sidenreng, osong Bawi Mabbosanna Maniampajo, dll.
Iya bela, iya pakkanna
e lakallolo, magi muonro
aga dega muissenngi makkedae
pitu anak dara mabaju eja tajekko ri pammasareng
Lesseko keloe ri tenggana jekangnge
natoliangao gajang
labetta massola-solae
Sola-sola mate
temmasola-sola mate
lebbini mate massola-solae

Artinya :


Wahai sekalian, seluruh pasukan perang
hai anak muda, mengapa tersendat maju apakah
engkau tak tahu bahwa
tujuh orang bidadari berbaju merah
menunggumu di pusara

menghindarlah kalian dari tengah jalan
nanti tersenggol senjata
si pemberani yang tak takut mati
pemberani akan mati
yang tidak beranipun juga akan mati
lebih baik mati sebagai pemberani

He pakkannea
idina jowana La Jalante
teppallaisenngi lino pammasareng

Kegapi muelo mate
Jowa engkatona
ajjowareng angkatona

Temmate tuwoe
teilete ri manipi
tania kadona
He bela
sola-sola mate, temmasole-sole mate
lebbi I sia mate massola-solae
pitu gare wawinnena ri maje
mate massola-solae
Idi‘na wijanna warani pitue
bawi mabbosanna Maniampajo
tedong tenrilasekna Anabbanua
assangirenna malelae
attabutturenna picunannge

Artinya :
He prajurit pasukan perang
kami inilah pasukan La Jalante
yang tidak membedakan mati atau hidup

Kapan lagi kita mau berkorban
pengikut telah siap
pemimpinpun telah siap

Tak mati yang hidup
tidak masuk hang lahat
yang bukan suratannya

He beta
pemberani akan mati, yang tidak beranipun akan mati
lebih terhormat mati sebagai pemberani

Konon kelak disediakan tujuh istri
bagi mereka yang mad sebagai pemberani

Kitalah ini turunan pemberani yang tujuh
Si Babi Gonrong dari Maniampajo
Kerbau tak dikebiri dari Anakbanua
tempat mengasah keris
tempat tertumbuknya peluru[4]

Senandung nyanyian-nyanyian perang (Elong Asong) ini alunannya melampaui batas-batas wilayah, daerah atau kawasan etnik tertentu.

Ketika nyanyian perang semacam ini disenandungkan pula pada tempat lain dan alunannyapun melampui batas wilayah, daerah dan kawasannya, bertautlah untaian liriknya mempersatukan irama zaman. Keadaan semacam inilah yang menautkan "memori kolektif" mereka. Memori kolektif inilah yang menjadi benih tumbuhnya satu kesadaran bersama yang melahirkan suatu tingkah laku kolektif yang ditemukan di mana-mana. Faktor-faktor inilah yang menjadi embrio bagi lahirnya satu nation kelak di kemudian hari.

Memperhatikan perjuangan Arung Palakka dalam menegakkan hak azasi manusia yang terinjak-injak ketika itu akibat diperlakukan sebagai budak di luar batas kemanusiaan (ripoata pupu) dan memperoleh kesengsaraan dan perlakuan kasar sebagai pekerja paksa (anrasarasangnge ri kaee) sebagai faktor utama keterlibatannya menyejarah. Tak dapat diragukan lagi tujuan perjuangan itu. Sebagai upaya mencari keseimbangan, dan merebut harga dirinya yang hilang.

Persoalannya sekarang adalah sejauh mana perjuangan kemanusiaan yang dikorbankan Arung Palakka ketika itu mampu melampaui batas-batas wilayah, daerah dan kawasannya. Kemudian apakah tema perjuangan kemanusiaan Arung Palakka ketika itu mampu mengalahkan tema yang aktual di abad ke-17 sehingga tema perjuangan kemanusiaan itu dapat diterima secara universal oleh zamannya.

Dengan demikian akan tampak bahwa masalah yang perlu mendapat perhatian bukan peristiwa atau kejadiannya, melainkan filsafat sejarahnya, yakni ide keterlibatan Arung Palakka dalam perang, bukan jalannya peperangan.

Daftar Pustaka

* Alfian, Ibrahim, Prof. Dr., 1987. Perang di Jalan Allah 1873-1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
* -------, 1992. Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil. Jakarta: Balai Pustaka.
* Daeng Patunru, Abdulrrazak dkk., 1981. Sejarah Bone. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaati Sulawesi Selatan.
* Duveger, Manrice, 1981. Sosiologi Politik. Jakarta: CV. Rajawali.
* Frederick, William H., 1984. Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta: LP3ES.
* Kartodirdjo, Sartono, 1983. Elite Dalam Perpektif Sejarah. Jakarta: LP3ES.
* -------, 1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3ES.
* Keller, Susanne, 1989. Penguasa dan Kelompok Elite. Peranan Elite Penentu Dalam Masyarakat Modern. Jakarta: Rajawali.
* Nugroho, Ahmad, 1987. Lahirnya Mutjangkung: Tinjauan Pupuh-Pupuh Awal Serat Sekaber. Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM.
* Lontaraq Akkarungeng (Bone), 1985. Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.
* Punagi, H. Andi Abubakar, 1986. Transliterasi dan terjemahan Elong Ogi Hasil Sastra Tulisan Bugis. Ujung Pandang: Proyek Penelitian dan pengkajian Kebudyaan Sulawesi Selatan. Lagaligo.

____________________________

Tulisan ini diambil dari buku yang berjudul Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta: Persembahan kepada Teuku Ibrahim Alfian. Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, 1992.

Mukhlis PaEni, adalah Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Repubulik Indonesia.

Kredit foto :(Foto Mukhlis Paeni) dan telukbone.blogspot.com

[1] Hikayat Perang Sabil, Sastra Perang, T, Ibrahim Alfian, Balai Pustaka 1992.

[2] Spanyol di sini diartikan sebagai Eropa, tetapi yang dimaksud adalah Belanda.

[3] Ahmad Nugroho: Lahirnya Murjangkung, Fakultas Sastra 1982.

[4] Elong Ugi, Hasil Sastra Tulisan Bugis, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Lagaligo. 1986/1987. — with Abd Majid Bakri.

lontara ana'loloE..

BICARANNA ANA’ LOLO’E”

بسم ا لله الر حمن الر حيم الحمد الله رب العالمين

Sininna pappoji’e napunna’I maneng puang Allah Ta’alah, puang sininna alang’nge, puang jellokeng’ngi lao rigau patuju’e mapparenggerang lao rigau pasala’e.

Usabbi majeppu degaga puang risompa tongeng-tongeng sangadinna puang Allah Ta’alah, usabbi toi majeppu Nabi Muhammad Saw suro mateppena Allah Ta’alah, namakkamase lao risurona, enreng’nge sahabanna kotopa laing’nge atanna mateppe’e, wa’ba duhu……………

Iyanna passaleng bicaranna ana lolo’e riwettuna maelo massu pole ribabuana Indona:

Makkedai Puang Allah Ta’alah, oh Jibrilu surui ana lolo’e massu!

Makkedai Jibrilu oh ana lolo assuku nalorekko Allah Ta’alah massu!

Makkedai ana lolo’e de umaelo massu narekko tekka wesseng’ngi assuren’nge?

Makkedai puang Allah Ta’alah ; assuku ana lolo walakko sifa!

Makkedai ana lolo’e; kega sifa maelo talakka puang?

Makkedai Puang Allah Ta’alah ;

- Sifa engka’ku upanjajiko Tubuh

- Sifa Warekku upanjajiko Ati

- Sifa Arajakku upanjaji Nyawa

- Sifa Tuoku upanjajiko Rahasia

Makkedai Ana lolo’e ; de maolo massureng’ngi narekko iyamiro bawang.

Makkedai Allah Ta’alah; magai muteyya massureng’ngi ana lolo
Makkedai Ana lol’e; iyaro uteyya sabana upahang’ngi anu riparappemi, iyyatu ada anu riparappe tommoi.

Makkedasi Allah Ta’alah; Assuno walekko Tajang!!!

Makkedai Ana Lolo’e; Tajang aga maelo tawarekka puang?

Makkedai Allah Ta’alah: Narekko engka tajang massu pole riposimu mabbatang kaluku siteru langi pitu susung’nge tanah pitu lapi’e, mitani alemu mappake mapute rilalenna tajang’nge mappake maccabulo, makudara mangollini lisena tajang’nge iyyanaritu…!!

Makkedai Ana lolo’e; de umaelo assureng’ngi nasaba nawinru billisi.

Makkedai Allah Ta’alah; Magai muaseng’ngi nawinru billisi?
Makkedai Ana lolo’e; dua nawinru billisi iyyanaritu ripuada’e nenniya naita mata kassara, dua rupato de nullei winru billisi iyyanaritu dena ripau nenniya de narita’e.

Makkedaisi Allah Ta’alah ; tongeng’ngi adam’mu ana lolo, assuno warekkosi tajang!!!

Makkedai Ana lolo’e; Tajang aga maelo tawerekka Puang?

Makkedai Puang Allah Ta’alah; Narekko engka tajang mapute,malotong,makudara, ajasana muajjeriwi sangadinna engkapi pada-padam’mu, narekko nabbokorino accena iyyano!!!

Makkedai Ana Lolo’e; de umaelo wajjeriwi
Makkedai Puang Allah Ta’alah; maagi muteyya muwacceri ana lolo?

Makkedai Ana Lolo’e; narekko makketu adatta puang, ajanna usappiki iyyapa pada-padak’ku ripanjaji sitangga-tangga saba pada-padakku muto.

Makkedani Allah a’alah; tongessi adammu ana lolo, assuno waressiko tajang!!!

Makkedai Ana Lolo’e; tajang agasi maelo tawerekka puang?

Makkedai Puang Allah Ta’alah; Narekko engka tajang massu pole rialinromu eppa mette tongen makkeda;

بُدُّوْحُ ~ قُدُّوسَُ ~ سُبُّوحَُ ~ بَدِيْعَُ

Iyyanatu massulong lao ri Iyya !

Makkeda Ana Lolo’e; de umaelo massureng’ngi nasaba dena wedding engka tajang pole ri alinroku eppa mette tongeng narekko degaga apolengenna

Makkedai Allah Ta’alah; Taroi upidakko apolengenna

- Seddi pole ri Iyya

- Seddi pole ri Nabi’e

- Seddi pole ri Malaeka’e

- Seddi pole ri Tau’e
Makkdasi Ana Lolo’e; deppa umaelo massureng’ngi nasaba Iyya mappau muitaka, Idi Puang mappau de witaki, narekko de witaki deto wisseng’ngi maccueriki.

Makkedani Puang Allah Ta’alah; Tongeng’ngi adammu ana Lolo, assuno warekk sadda!!!

Makkedai Ana Lolo’e; Sadda aga maelo tawerekka Puang?

Makkedai Puang Allah Ta’alah; - narekko engka sadda makkeda (A) isseng’ngi Puang’mu

- narekko engka sadda makkeda ( I ) isseng’ngi Alemu

- narekko engka sadda makkeda (U) isseng’ngi Nabi’mu

Makkedai Ana Lolo’e; de umaelo meassureng’ngi narekko saddami

Makkedai Allah Ta’alah; Magai muteyya massureng’ngi ana lolo?
Makkeda Ana Lolo’e; iyaro uteyya massureng’ngi nasaba saddami , talani matu saddat’ta magana iyya.

Makkedasi Allah Ta’alah; tongettu adm’mu ana lolo, assuno warekko Syariat, Tarekat, Hakikat, sibawa Ma’rifat

Makkedai ana Lolo’e; iyya tega Syariat, tarekat, hakikat na ma’rifat maelo tawerekka Puang?

Makkedani Puang Allah Ta’alah; - Naiyya Syariat’ e Tubum’mu

- Naiyya Tarekat’e Atim’mu

- Naiyya Hakikat’e Nyawamu

- Naiyya Ma’rifat’e Rahasiamu

Makkedai Ana Lolo’e; de umaelo massureng’ngi narekko iyamiro eppe passeleng nasaba wisse toni apolengenna

Makkedai Puang Allah Ta’alah; tega apolengenna Ana Lolo

Makkedai Ana Lolo’e; - Naiyya Syariat’e pole ri Tana’e

- Naiyya Tareka’t’e pole ri uwwae

- Naiyya Hakikat’e pole ri Anging’nge
- Naiyya Ma’rifat’e pole ri Api’e

Iyyanaro uteyya massureng’ngi ko iyaniro eppe’e.

Makkedani Puang Allah Ta’alah; toneng adammu ana lolo, pusana ritu adammu.

Makkedai Ana Lolo’e; tarona Puang mappa-pau narekko rapeni akkaletta siturui, narekko tessi toroki ancuruka paimeng.

Makkedani Puang Allah Ta’alah; Nareko situruki situruni.

Makkedani paimeng Ana Lolo’e; Maelo muka massu pada-padapi.

Makkedani Puang Allah Ta’alah; magai maelo mewaka pada-pada.

Makkedai Ana Lolo’e; narekko pada-padani dena gaga Puang dettona gaga Ata, deto gaga pasessa detona gaga tori sessa, narekko musessaka aleta tosessa.

Makkedani Puang Allah Ta’alah; Madecenni naekiyya ma’janjiki…

Makkedai Ana lolo’e Pekkogai bateta ma’janji Puang?

Makkedani Puang Allah Ta’alah:

“ NAREKKO MASSUKO SAPPAKA, ISSET’TOI AREWEKENNA TUBU’MU RI AMMEMENGENNA, NAREKKO MULOLONGEN’NA UNOKO, NAREK’KO UNOKO UTOK’KO-KO, NAREK’KO UTOK’K-KO ALEKO UTOK’KONGE’KO, NAREK’KO TO’ MULOLONGE’NGA MASSARAN’NITU REWEK’KOTU RI EPPA’E RUPAN’NA RI TANA’E,RI UWWAI’E,RI ANGING’NG, RI API’E MANCAJI OLO-KOLO NOTU KO MATEKO”.

Makkedai Ana Lolo’e; deppa maelo massureng’ngi deppa uwitaki lahereng.

Laherenni Puang Allah Ta’alah sitettongeng Ana Lolo’e’.

Makkedani Puang Allah Ta’alah;

Itana muassu mallahereng uwallinrungiko, narekko mulolonge’ka iko tosi mallinrung ri Iyya,Iyya tosi mallahereng, pada-pada nitu, naekiya Ata’e atamato’I, Iyyae Puang’nge Puang Mato’i.
Engka topa ada makkeda’e : Makkuani alarapanna وَالله وعلم

Padecengi bateta Mappahang' , harang'ngi to sellleng'nge te'ng punna pahang.

Tuesday, 17 January 2012

mari belajar bahasa bugis.

         1 ) Perbualan di stesen bas di antara la ride  dan  la sulle.
la ride: Tabe sapoo,melok'ka makkutana kasi'na..
          : Maaf saudara,boleh tumpang tanya tak?

la sulle: Iyye,odding..aga melok takkutanang.
            :Ya boleh..nak tanya apa?

la ride: base nomoro siaga yenreki ko melokki lao serdang.
          :Bas nombor berapa yg di naiki klu mau pergi serdang?
la sulle: ohh...endreki ko base nomoro aruaE.,nakkiya leppattu jolok cinampe ko cheras.
           : Ohh...boleh naik bas yg bernombor 8,tapi singga sekejap di cheras tu..

la ride: de'metto gaga base matteru-teru lokka serdang gah..
          : Memang tidak bas yg terus ke serdang kah?

la sulle: de'gaga sappo,makko memeng basee konyye..leppang-leppang
           : Tidak ada saudara,memang begitu bas klu disin...singgah-singgah..
la ride: Uporannu ladde paddisengeng ta sappo.
          : Terima kasih atas maklumatnya saudara.
la sulle: De namagaga..ta pada salama.
           : Tidak apa-apa..Sama sama



    2) Perbualan dia antara la ride dgn la sulle ( utk berkenalan )

 la ride: Tabe sappo,melokka mewaki sesseng..
            :Maaf saudara boleh kita berkenalan?

la sulle : odding,de'namagaga..
            : Boleh, tiada hal..
la ride : iga palek asetta sappok
            : Jadi siapa kamu punya nama saudara.
la sulle : ko iyya..sulaiman  asekku..nakkiya sulle mi bawang nobbirengnga tawe'..Iga tosi palek asetta idi' sappo..
            : Kalau saya punya nama sulaiman,tapi orng panggil sulle saja.jadi klu saudara pula siapa namanya.

la ride : ridwan asekku sappo..nakkiya ride tosi nobbirengnga silassurenggE..Okkoka sembulang mondro,massewa bolaka ceddena masijiE..
           : Ridwan namaku saudara,tapi biasa di panggil ride saja..Saya tinggal di sembulan menyewa disebelah masjid.

la ride : Na idi' tega tosi ki palek mondro..
           : Jadi klu kamu tinggak di mana pulak.
la sulle ; tosi iyya..koka' petagas mondro...bolana tomattuakku,macawe' ceddena salo petagas..
             : Kalau saya tinggal di petagas..rumah orng tuah,dekat dgn sungai petagas...

Saturday, 14 January 2012

pappengaja/nasehat

PANGAJA / NASIHAT

1, Nigi-nigi tettongiwi gettengngé sitettongi nabittaq Muhammad, pajel1okammoi tenri jellokang.
2. Nigi-nigi tettongiwi lempué sitettongiwi nabi Adang. Pabbicaramoi tenri. bicara.
3. Nigi-nigi tettongiwi ada tongengngé sitettongiwi nabi héléré, pasauq moi tenri sauq.
4. Nigi-nigi tettongiwi alabongngé, sitettongiwi malaikaq Jiberilu, patawangmoi ténri tawai.
5. Nigi-nigi tettongiwi mekkoé, sitettongiwi malaikaq Mikailu. Pappadeceng moi ténri padecengi,
6. Nigi-nigi tettongiwi nyamekkininnawaé, sitettongiwi malaikaq Israilu, mappacongamoi tenri paconga, menré moi tenno.
7. Naiya gettengngé sipa pajéllokannai nabitta Muhammad.
8. Naiya Lempué sipa pabbicarannai nabittaq Adang
9. Naiya ada tongengngé sipa pasaunai nabi héléré.
10. Naiya lobaé sipa patawannai malaikaq Jibrilu
11. Naiya mekkoé sipa mappadécénnai malaikaq Mikailu
12. Naiya nyamekkininnawaé sipa menreqna malaikaq Israilu
13. Naiya temmappasilaingengngé sipa mappaconganai malaikaq Israfilu
14. Nigi- nigi posipa’ iaro bicara pitué iyaréga sipa’ pitué, narékko namaséi puang Alla Taala malampé sunge’ sugi, panritai, mawijai, pasiangi tana wijanna (mapparenta).
15. Naiya gettennge ri Puang Alla Taala pannennuangngi pogauq pakkasiwiang ri Puang Alla Taala, mappanennuattoi niniriwi pappésangkana.
16. Naiya lempué ri Puang Alla Taala matékakangengngi majéppu Puang Alla Taala pancaji ripancajié.
17. Naiya ada tongengngé ri puang Alla Taala riatékakangngi déq mappabati rilainnaé puang Alla Taala.
18. Naiya lobaé ri puang Alla Taala mappésonangengngi aléna ri puang Alla Taala.
19. Naiya mekkoé ri puang Alla Taala, tawakkalaé ri Puang Alla Taala.
20. Naiya nyamengkininnawaé ri puang Alla Taala pannenuangi pappujinna lao ri Puang Alla Taala.
21. Naiya temmappasilaingengé ri Puang Alla Taala iyanaritu sukkurué ri puang Allah Taala, napappada-padai céddé, maégaé pabbéréna puang Alla Taala, maperina na mayamenna.
22. Naiya gettengngé ri puang Alla Taala narékko purai tapoada ajaq natapinrai.
23. Naiya lempué ri puang Alla Taala pasitinajaénngi gauq ri aléna.
24. Naiya ada tongengngé ri puang Alla Taala siturupi riatitta, lidata tapoadaé.
25. Naiya lobaé ri puang Alla Taala , agi- agi nacinnai tawérénngi narekko engkai nasitinaja hallalaq anré-anré togi pakaiang togi.
26. Naiya mekkoéri puang Alla Taala, aja tapoadai ada temmakkegunaé
27. Naiya nyamekkininnawaé ri puang Alla Taala ajaq tapawawoi alétaq tenna ulle sangadinna pakkasiwiangngé ri puang Alla Taala.
28. Naiya temmappasilaingngé ri puang Alla Taala, mauki arung, mauki panrita, mauki sugi, ita pada-padamaneng moi alemu padammu ripancaji.
29. Naiya gettengngé ri padattaq tau. maéloppiq molai, taiséppi tapoadangngi padatta tau.
30. Naiya lempué ri padatta tau, taitapi, taisséppi, tapoadanngi padatta tau.
31. Naiya ada tongengngé ripadatta, taitapi, taiséppi, tapoadangi padatta tau.
32. Naiya lobaé ri padatta tau. Narekko engka waramparangmu nacinnai padammu tau nasitinaja mua taweréngngi nasaba anu lao réwemuatu, majéppu puang Alla Taala pasiwale ritu.
33. Naiya mekkoé ri padatta tau, aja naribicara ri munri padatta tau.
34. Naiya nyamekkininnawaé ri padattaq tauq narékko napéjariki padattaq tauq tawaleq tosiha nasaba deceng. Nasaba riissenni anu maja.
35. Naiya temmapasilaingengé ri padattaq tau pattongengngi patujué, pasalai tau to rialena narekko salai iyamo nasalang, mau taulaeng narekko patujui iyamato natongengang.
36. Naiya gettengngé ri sewwa-sewwaé, narékko joppakki nakitabbuttu, gettengngi makkedaé iyaqmuro pasala nasabaq anu dé natassala rionronna naiya pogeppai, capu-capui namasigaq sau.
37. Naiya lempué ri sewwa- sewwaé, narékko engka waramparatta nanré olokolo aja tapocai, nasabaq dalleqna motuto nanré.
38. Naiya mekkoé ri sewwa-sewwaé, aja mutarasui sewwa-sewwaé.
TERJEMAHAN

1.Barang siapa yang Menegakkan keteguhan adalah sependirian dengan nabi kita Muhammad yang selalu menuntun tetapi tidak pernah dituntun.
2.Barang siapa menegakkan kejujuran, maka sependirian dengan nabi Adam, yang selalu memberitahukan tapi tidak pernah diberitahukan.
3.Barang siapa yang selalu berkata benar, dia sependirian dengan Nabi Haidir yang selalu menang dan tidak pernah kalah.
4.Barang siapa menegakkan kedermawanan, maka sependirian dengan malaikat Jibril yang selalu memberi, tetapi tidak pernah diberi.
5.Barang siapa menegakkan diam maka sependirian dengan malaikat Mikaill yang selalu menghalangi tidak pernah dihalangi.
6.Barang siapa berhati baik, sependirian dengan malaikat Israil dia dipanuti tidak direndahkan, dia naik tidak pernah turun.
7.Adapun keteguhan itu adalah sifat penunjuknya nabi kita Muhammad.
8.Adapun kejujuran itu sifat perkataannya nabi Adam.
9.Adapan berkata benar itu sifat menangnya nabi Haidir.
10.Adapun dermawan itu, sifat pemurahnya malaikat Jibril.
11.Adapun diam itu sifat kebaikan malaikat Mikail.
12.Adapun berhati baik sifat mulianya malaikat Israil.
13.Adapun tidak membeda-bedakan sifat kepanutannya malaikat Israfil.
14.Barang siapa yang memiliki perkara yang tujuh itu, apabila Allah SWT merahmati maka panjang umurnya, kaya, ulama, berketurunan, dan turunannya berpeluang memerintah.
15.Adapun keteguhan kepada Allah swt, mengekalkan melakukan ibadah kepada Allah swt , meneguhkan menghindari larangannya.
16.Adapun kejujuran kepada Allah swt, yaitu orang yang bertindak karena Allah yang menciptakan mahluknya.
17.Adapun perkataan benar kepada Allah swt, yaitu melaksanakan perintahnya dengan tidak berdasar selain daripada Allah
18.Adapun dermawan kepada Allah swt, yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.
19.Adapun diam kepada Allah yaitu bertawakkal kepada Allah
20.Adapun berhati baik kepada Allah swt, yaitu mengekalkan cintanya kepada-Nya.
21.Adapun tidak berubah pikiran kepada Allah swt yaitu bersyukur kepada Allah tidak membedakan sedikit atau banyak pemberian Allah swt, bahagia atau susah.
22.Adapun keteguhan kepada Allah swt, apabila sudah mengatakan sesuatu jangan lagi diubah.
23.Adapun kejujuran kepada Allah swt yaitu berbuat sewajarnya pada diri sendiri..
24.Adapun berkata benar terhadap Allah swt yaitu apabila hati dan lidah sejalan
25.Adapun dermawan kepada Allah swt yaitu memberikan sesuatu kepada orang lain yang diinginkan dalam batas halal, pakaian, ataupun berupa makanan.
26.Adapun diam kepada Allah swt, yaitu jangan membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
27.Adapun berhati baik kepada Allah SWT, jangan .........
28.Adapun yang tidak membeda-bedakan di sisi Allah, apakah bangsawan, ulama, orang kaya lihatlah sama derajatnya sebagai sesama ciptaan.
29.Adapun keteguhan kepada sesama manusia, kita dapat melakukannya, kita beritahu orang jika kita mengetahuinya.
30.Adapun kejujuran sesama manusia yaitu lihatlah, ketahuilah, kemudian memberitahukan orang lain.
31.Adapun perkataan baik terhadap sesama manusia, yaitu lihatlah, ketahuilah, kemudian memberitahukan orang lain.
32.Adapun dermawan sesama manusia, yaitu apabila ada harta benda kita yang diinginkan orang laindan wajar bila memberinya, karena barang datang dan pergi, maka Tuhan yang akan memberi ganjaran.
33.Adapun diam sesama manusia, yaitu jangan membicarakan orang yang tidak hadir
34.Adapun berhati baik sesama manusia, yaitu jika orang berbuat baik pada kita tetap dibalas dengan kebaikan, sebab sudah diketahui bahwa hal tersebut jahat.
35.Adapun yang tidak membeda-bedakan sesama manusia, yaitu membetulkan yang benar, dan menyalahkan yang salah sekalipun keluarganya yang salah.
36.Adapun keteguhan kepada sesuatu yaitu apabila kita berjalan dan tertumbuk yakinlah, bahwa sayalah yang bersalah sebab benda itu tidak bergerak.
37.Adapun kejujuran terhadap mahluk, yaitu apabila ada harta benda kita, mahluk, janganlah marah karena reskinya pulalah yang dimakam.
38.Adapun diam terhadap sesama, yaitu jangan mengatai-ngatai

PENJELASAN

Nasihat / Pappangaja mendeskripsikan tentang bagaimana seharusnya sifat yang dimiliki oleh manusia pada umumnya dan masyarakat Bugis pada khususnya. Sifat yang dimaksud adalah getteng (keteguhan), lempu (kejujuran), ada tongeng (perkataan yang Benar), alabong (dermawan), mekko (diam), nyamekkininnawa (perasaan senang), dan temmappasilaingeng (tidak membeda-bedakan). Pemaparan dan pengungkapan teks “Pappangajana Abdul Bada dapat digolongkan dalam suatu karya sastra yang bersifat keagamaan yang di dalamnya dihubungkan dengan sifat para nabi. Di samping itu antara kalimat yang satu dengan yang lain saling berhubungan sebagai satu
kesatuan yang menyeluruh.
Nilai-nilai religius yang diambil dari Nasihat / Pappangaja bangsa Bugis dihubungkan dengan nilai-nilai religius antara lain; keimanan (tauhid) akhlak dan muamalah yang bersumber agama Islam.
1. Keimanan (Tauhid)
- Barang siapa yang selalu berkata benar, dia sependirian dengan Nabi Haidir yang selalu menang dan tidak pernah kalah
- Adapun kejujuran kepada Allah swt yaitu berbuat sewajarnya pada diri sendiri
- Adapun perkataan benar kepada Allah swt, yaitu dengan membuktikan perbuatannya tidak akan menyembah selain Allah swt.
- Adapun dermawan kepada Allah swt, yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
- Adapun diam terhadap Allah SWT yaitu tawakkal kepada-Nya
- Adapun tidak berat sebelah kepada Allah swt, yaitu walaupun kita bangsawan, ulama, kaya semua sama sebagai manusia ciptaan Allahswt.
2. Ibadah (syariah)
- Barang siapa yang selalu berhati baik sependirian dengan malaikat Israil yang selalu naik tidak pernah turun.
- Adapun keteguhan terhadap Allah SWT, yaitu mentaati segala perintahnya dan menjauhi larangannya.
- Adapun dermawan kepada Allah SWT, yaitu memberikan sebagian harta kita sesuai dengan kemampuam baik berupa makanan maupun pakaian.
- Adapun diam kepada Allah SWT yaitu janganlah membicarakan sesuatu yang tidak berguna.
3 Akhlak
- Adapun dermawan terhadap sesuatu, yaitu apabila ada harta benda kita makan binatang atau dirusakkan janganlah marah-marah karena tetap reskinya yang dimakan.
- Barang siapa yang menegakkan keteguhan adalah sependirian dengan nabi kita Muhammad yang selalu menunjuk tetapi tidak pernah ditunjuk.
- Barang siapa menegakkan dermawan, maka sependirian dengan malaikat Jibril yang selalu menghalangi, tetapi tidak pernah dihalangi.
- Barang siapa yang tidak berat sebelah (tidak memihak) maka sependirian dengan malikat Israfil yang selalu menadah tapi tidak pernah ditadah dan selalu naik tapi tidak pernah turun.
- Adapun keteguhan itu adalah penunjuknya nabi kita Muhammad SAW.
- Adapun kejujuran itu sifat perkataannya nabi Adam AS.
- Adapan berkata benar itu sifat menangnya nabi Haidir.
- Adapun dermawan itu, Sifat penahannya malaikat Jibril.
- Adapun diam itu sifat kebaikan malikat Mikail.
- Adapun berhati baik sifat naiknya malaikat Israil.
- Adapun yang tidak berat sebelah (tidak memihak) sifat menadahnya malaikat Israfil.
- Adapun yang tidak berat sebelah (tidak memihak) kepada Allah SWT, yaitu mensyukuri reski yang diberikan Allah SWT kepada kita, baik sedikit, banyak, sukar maupun enaknya.
- Adapun kejujuran kepada Allah swt, yaitu orang yang bertindak secara wajar pada dirinya.
- Adapun perkataan benar kepada Allah swt, yaitu apabila berkata sesuai hati dengan perkataan.
- Adapun keteguhan sesama manusia yaitu menghargai keputusan orang lain
- Adapun kejujuran sesama manusia, yaitu apabila kita mampu melaksanakan apa yang disuruhkan orang lain kepada kita.
- Adapun diam terhadap sesama manusia yaitu apbila tidak suka menceritakan kejelekan orang lain.
- Adapun berhati baik sesama manusia, yaiu apabila orang lain menghianati kita tetap balas dengan kebaikan walaupun kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang pada kita tidak baik
- Adapun yang tidak berat sebelah (tidak memihak) sesama manusia, yaitu orang yang membetulkan yang benar dan menyalahkan yang salah sekalipun itu keluarganya yang salah dan walaupun orang lain
kalau benar harus dibenarkan.
- Adapun keteguhan kepada sesuatu yaitu apbila kita berjalan dan tertumbuk, berkatalah bahwa sayalah yang bersalah, sebab sesuatu itu nanti bergerak apabila digerakkan, obatilah supaya cepat sembuh.
- Adapun kejujuran sesama mahluk, yaitu janganlah mempermainkan sesuatu kecuali ada manfaatnya.
- Adapun diam terhadap sesuatu, yaitu apabila kita diganggu atau disusahkan janganlah mengata-ngatai, karena memang sesuatu itu tidak mempunyai akal pikiran.
4. Muamalah
- Barang siapa menegakkan kejujuran, maka sependirian dengan nabi Adam, yang selalu memberitahukan tapi tidak pernah diberitahu.
- Adapun berhati baik kepada Alla Taala, yaitu janganlah memaksakan diri pada hal-hal yang tidak dapat dijangkau melainkan menyerahkan kepada Allah SWT.
- Adapun dermawan sesama manusia, yaitu apabila kita rela memberikan harta kita kepada orang lain secara ikhlas, karena sesungguhnya yang diberikan kepada orang lain suatu saat Tuhan akan membalasnya.

” Nasihat / Pangaja mengandung nilai-nilai religius yang tersebar di dalamnya yang mencakup beberapa aspek kehidupan manusia utamanya yang beragama Islam. Islam tidak hanya apa yang wajib dan dilarang untuk dilakukan oleh manusia, tetapi adalah suatu cara untuk mengetahui.
Hal inilah yang terpenting karena esensial Islam adalah agama pengetahuan. Bagian pertama kesaksian Iman dalam Islam adalah La Ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Orang Islam memandang bahwa semua ilmu pengetahuan merupakan bukti kebenaran yang paling fundamental. Dalam Islam dikenal dengan nama Tauhid atau Ke-Esaan Allah SWT. Kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan ke-Esaan Allah. Memiliki kesadaran akan ke-Esaan Allah berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah satu dalam essensinya, nama, sifat, dan perbuatannya. Pengungkapan pengetahuan ke-Islaman dalam teks “ Pappangajana Abdul Bada” oleh pengarang bermaksud menyampaikan beberapa nasehat atau ajaran- ajaran ke-Islaman di dalamnya untuk disampaikan kepada manusia. Nilai-nilai relegius tersebut tersebar di dalamnya seperti adanya Allah, adanya malaikat, adanya nabi, dan sebagainya, yang di dalamnya merupakan unsur- unsur penjabaran Ke-Islaman.
Sebagaimana yang tercantum dalam teks Pappangajana Abdul Bada “ Naiya lempue ri puang Alla Taala ianaritu,
matekakangi majeppu puang Alla Taala pancaji ripancanjie” (adapun kejujuran kepada Allah yaitu dengan meyakini pengetahuan Allah sebagai pencipta dari mahluk yang diciptakan). Hal ini menandakan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya sebagai pencipta dari semua mahluk yang diciptakan di muka bumi ini. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan tentunya mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Sebagaimana dalam teks “naiya ada tongengnge ri puang Alla Taala riattekakangi de’ mappabati rilaennae puang Alla taala” (adapun perkataan yang benar kepada Allah SWT yaitu dengan membuktikan perbuatannya dengan tidak menyembah sesuatu selain Allah SWT. Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah al-Anbiyah ayat 25 yang artinya“ Dan kami tidak mengutus seorang Rasul sebelum engkau (Muhammmad), melainkan kami wahyukan kepadanya.bahwa
sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku, karena itu sembahlah Aku” Sementara itu, sebagai mahluk- Nya kita diperintahkan untuk memuja-Nya dan menyerahkan diri. Hal ini diungkapkan dalam teks “ Naiya lobae ri Puang Alla Taala mappesonangenngi alenari puang Alla Taala” (adapun dermawan kepada Allah SWT yaitu menyerahkan diri kepada- Nya. “ Naiya nyamengkininnawa ri puang Alla Taala pannennuanngi pappujinna lao ri puang Alla Taala”
(adapun berhati baik kepada Allah SWT yaitu dengan memuja- Nya). Jadi secara keseluruhan nilai-nilai yang terkandung dalam teks Pappangajana Abdul Bada merupakan penjabaran dari rukun Iman.

Ibadah (syariat)
Niali-nilai yang terkandung dalam teks Pappangajana Abdul Bada yang berkaitan dengan syariat tersebar dalam teks ini. Hal yang dimaksud yaitu bahwasanya semua kegiatan manusia baik yang bersifat ubudiyah maupun yang muamalah dikerjakan dalam rangka penyembahan kepada Allah SWT dan mencari keridhoan- Nya, karena sesuatu pekerjaan bernilai ibadah tergantung dari niatnya. Nilai-nilai ini dikaitkan dengan rukun Islam, yang penjabarannya ada dalam teks Pappangajana Abdul Bada ini. Penjabaran ibadah dalam konteks ini yang diajarkan Islam
tidak berarti harus menjauhi dan meninggalkan hidup duniawi seperti pergi bertapa ke gua-gua, menjauhkan diri dari pergaulan masyarakat dan sebagainya, akan tetapi Islam menghendaki keselerasan antara kehidupan duniawi dan akhirat. Sebagaimana dalam teks “naiya riasengnge getteng ri Puang Alla Taala ianaritu pannenngnuanngi
pogaui pakkasiwiangngi ri puang Alla Taala nennia niniriwi pappesangkana” (yang dimaksud dengan keteguhan hati kepada Allah SWT yaitu melaksanakan segala perintah- Nya dan menjauhi segala larangan- Nya). Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 110 yang Artinya “ kamu adalah ummat terbaik yang
pernah ditampilkan untuk menghadapi manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan, melarang perbuatan yang tidak baik dan beriman kepada Allah SWT”
Berdasarkan ayat tersebut di atas yaitu kita diperintahkan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan- Nya. Hal ini berarti sebagai orang Islam kita percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan tersebut diwujudkan dalam bentuk peribadatan. Jadi pada prinsipnya Islam adalah La Ilaha Illallah (hanya Allahlah yang
menjadi Tuhan, sebagai pencita kehidupan). Hal ini dipercayai dalam hati nurani, diperlihatkan dalam upacara ibadah dan dinyatakan dalam bentuk hukum dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu berhubungan dengan zakat tersirat dalam teks ini anatara lain dengan memberikan sebagian harta kita kepada sesama manusia dengan kemampuan, baik berupoa makanan maupun pakaian. Disini dapat dilihat bahwa Islam tidak menyukai orang yang kikir dan
menyembah harta, tetapi Islam menghendaki kita mengorbankan sebagian harta kita yang didapat dari hasil keringat di jalan- Nya, tanpa maksud pribadi sedikitpun. Kesemuanya itu bertujuan untuk saling tolong- menolong, yang kaya membantu yang miskin dan yang miskin tidakl suka menengadahkan tangan kepada yang kaya untuk meminta.
Demikian pula kita selalu dianjurkan untuk selalu berhati baik dan berniat baik kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Akhlak dan Muamalah
Nilai-nilai religius yang berkaitan dengan akhlak dan mumalah yang dihubungkan dengan tata kehidupan bermasyarakat yang dituangkan dalam teks ini. Sehubungan dengan akhlak Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya “ sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak”
Dari sabda Nabi Muhammad SAW dapat ditarik kesimpulan antara lain;

Misi Moral pertama
Misi yang dimaksud disini adalah menyempurnakan akhlak yang mulia baik langsung maupun tidak langsung. Sebagaimana dalam teks beberapa kali diungkapkan tentang perlunya menegakkan sifat
kedermawanan, tidak berat sebelah, jujur dalam berkata, berbuat kebaikan, tidak menceritakan kejelekan orang lain dan sebagainya.

Misi moral kedua
Yaitu melanjutkan misi Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya, makanya dikatakan sebagai penyempurnah dari akhlak nabi sebelumnya. Menurut ajaran Islam berdasarkan praktek Rasulullah bahwa pendidikan akhlakul karimah adalah faktor penting dalam membina suatu ummat atau membangun bangsa, kenapa? karena yang diperlukan adalah keikhlasan, kejujuran, jiwa kemanusiaan yang tinggi, kedisiplinan, berorientasi ke masa depan dan mengadakan pembaharuan. Kesemuanya inilah yang harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat mulai dari tingkat atas sampai pada lapisan bawah, karena lapisan atas inilah yang akan memberikan contoh yang apabila memberikan contoh buruk maka berlakulah pepatah “ guru kencing berdiri, maka murid akan kencing berlari”. Begitupun akhlak jualan yang menentukan bangun dan runtuhnya suatu bangsa. Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair besar Ahmad Syauki Bey mengatakan yang artinya : “Kekalnya suatui bangsa ialah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap maka musnah pulalah bangsa itu”

Nilai-nilai religius yang terkandung dalam naskah-naskah lama yang ada di Sulawesi Selatan secara umum, merupakan nilai- nilai yang telah terkandung dalam kehidupan dalam masyarakat namun demikian ada juga yang bersumber dari luar. Teks “pappangajana Abdul Bada” merupakan nasehat- nasehat atau petuah-petuah yang diberikan oleh orang tua kepada anak cucunya. Nilai- nilai tersebut yang terkandung dalam teks “pappangajana Abdul Bada” adalah nilai-nilai religius yang Islami yang disesuaikan dengan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran Islam, yaitu; keimanan (tauhid), ibadah (syariat), dan akhlak dan muamalah.

Friday, 13 January 2012

Dalam bahasa Arab, TAUHID diertikan "mengesakan". Maka dalam ilmu Tauhid, ianya memberi erti mempercayai Tuhan itu esa. Oleh itu Ilmu Tauhid ialah ilmu yang menerangkan segala kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukumnya di dalam Islam termasuk hukum mempercayakan Tuhan itu esa.

Seandainya terdapat orang yang tidak mempercayai perkara-perkara yang menjadi asas Ilmu Tauhid, nescaya orang itu bukanlah seorang Islam bahkan gelaran kafir adalah yang selayak bagi dirinya. Begitu juga halnya, sekiranya seorang Islam menukar kepercayaan dari mempercayai perkara-perkara yang asas, kedudukannya juga adalah kafir.

Perkara yang asasi yang wajib dipercayai dalam ilmu Tauhid ialah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup terang dan kuat yang terdapat di dalam Al Quran atau Hadis yang sahih. Perkara yang dipercayai ini tidak boleh dita'wil (ditukar) maknanya yang asli dengan makna yang lain.

Perkara-perkara dan hukum-hukum yang dinyatakan di dalam Ilmu Tauhid itu terkandung di dalam Rukun Iman. Sebelum kita membahaskan lebih lanjut tentang rukun iman, marilah kita pelajari tentang pengertian hukum dalam ilmu Tauhid. Kerana setiap undang-undang ada hukum.

Apa itu hukum ? Hukum ialah menentukan sesuatu sifat atau rupa kepada sesuatu benda atau perbuatan atau lainnya.

Untuk lebih jelas, mari kita lihat contoh ini.

Cth 1. : Pisau ini tajam. Maka "pisau" adalah benda atau zat, dan hukum kepada benda (pisau) adalah "tajam".

Cth 2. : Berlari dengan laju. Maka "berlari" adalah perbuatan, dan hukum kepada berlari adalah "laju".

Ada berapa hukum di dalam Ilmu Tauhid ? Dalam ilmu Tauhid, hukum terbahagi kepada tiga :

1. Wajib
2. Mustahil
3. Mumkin

Apa erti WAJIB dalam ilmu Tauhid ? Wajib dalam ilmu Tauhid bererti, akal menentukan dan menghukumkan bahawa sesuatu itu tidak boleh tidak, mestilah begitu. Hukum wajib dalam Ilmu Tauhid ini ditentukan oleh akal dengan serta merta tanpa memerlukan penyelidikan dan dalil. Contohnya :

Cth 1 : RM 100 adalah lebih banyak dari RM 50. (Ertinya akal atau logik kita dapat mengetahui dan menentukan atau menghukumkan, RM 100 adalah lebih banyak dari RM 50. Tidak boleh tidak.)

Cth 2 : Seorang ayah lebih tua dari dari anaknya. (Ertinya akal tahu sememangnya seorang ayah wajib lebih tua dari si anak)

Dan ada pula hukum wajib yang dapat ditentukan dengan memerlukan penyelidikan yang rapi dan cukup kuat. Contohnya :

Cth 1 : Bumi ini bulat. sebelum akal dapat menentukan bumi ini bulat, dan menghukumkannya (mennetukannya) bulat, penyelidikan dan bukti perlu ada.

Cth 2 : Demikian juga jika akal kita menghukum "Tuhan wajib ada" hukum itu adalah hasil penyelidikan yang rapi yang menunjukkan kewujudan Tuhan adalah wajib ada. Di sokong dengan dalil-dalil bersumber Al Quran.

Apa erti MUSTAHIL dalam Ilmu Tauhid ? Erti MUSTAHIL dalam ilmu Tauhid adalah pengertian yang sebaliknya kepada pengertian WAJIB dalam ilmu Tauhid. MUSTAHIL dalam ilmu Tauhid bererti, akal tidak boleh menentukan dan tidak boleh menghukumkan bahawa sesuatu itu begitu. Hukum mustahil dalam Ilmu Tauhid ini ditentukan oleh akal dengan serta merta tanpa memerlukan penyelidikan dan dalil. Contohnya :

Cth 1 : Mustahil RM 50 lebih dari RM 100.
Cth 2 : Mustahil si ayah lebih muda dari si anak.

Akal tidak boleh menerima dan tidak boleh bersetuju RM 50 lebih banyak dari RM 100. Juga akal tidak boleh menerima dan tidak boleh bersetuju serta menghukumkan , si ayah lebih muda dari si anak.

Sebagaimana hukum WAJIB dalam Ilmu Tauhid, hukum MUSTAHIL juga ada yang ditentukan dengan memerlukan penyelidikan yang rapi dan cukup kuat. Contohnya :

Cth 1 : Mustahil bumi ini tiga segi. Sebelum akal dapat menghukum bahawa mustahil bumi ini segi tiga, perkara tersebut hendaklah diselidik dengan rapi dan berhajatkan dalil.

Cth 2 : Mustahil Tuhan boleh mati. Sebelum akal dapat menghukum bahawa mustahil Tuhan boleh mati dan dibunuh sebagaimana kepercayaan Kristian terhadap Jesus, maka perkara tersebut hendaklah diselidik dan berhajatkan dalil.

Apa erti MUMKIN PADA AKAL dalam ilmu Tauhid ? Mumkin Pada Akal dalam ilmu Tauhid ertinya ialah akal kita dapat menentukan atau menghukumkan bahawa sesuatu benda atau sesuatu zat itu boleh berkeadaan tertentu atau boleh pula berkeadaan tidak begitu. CONTOHNYA :

Cth 1 : Penyakit Si Polan, mumkin sembuh dan mumkin tidak sembuh. Si Polan adalah zat. Sembuh atau tidak adalah hukum mumkin. Hukum Mumkin disini, tidak memerlukan kajian atau berkehendakkan hujjah atau dalil.

Cth 2 : Bila langit mendung, mumkin hujan turun lebat mumkin hujan turun renyai-renyai, mumkin tidak turun hujan. Langit mendung dan hujan adalah zat, sementara lebat, renyai atau tidak turun hujan adalah hukum mumkin.

Seperti hukum Wajib dan Mustahil, MUMKIN juga adakalanya memerlukan bukti atau dalil. Contohnya :

Cth 1 : Manusia mumkin hidup beratus tahun tanpa makan dan minum. Seperti kisah Ashabul Kahfi yang dipaparkan dalam surah Al Kahfi. Ianya adalah MUMKIN yang memerlukan dalil.

Cth 2 : Singgahsana Istana dan takhta mumkin dipindahkan dengan sekelip mata ke jarak ribuan kilometer. Seperti kisah Wazir Nabi Sulaiman AS memindahkan istana Ratu Balqis dari Yaman ke negara Palestine. Kisah ini memerlukan dalil dalam AL Quran Surah An Naml ayat ke 40.

Dalam ilmu Tauhid disebut MUMKIN, tetapi diubah kepada istilah MUNGKIN oleh orang Melayu kita.

Dalam ilmu Tauhid, apabila kita membicarakan tentang hukum-hukum dalam ilmu Tauhid, selain dari membahaskan tentang hukum akal, kita tidak lepas lari dari membahaskan tentang hukum adat.

Apa itu adat ? Adat ialah kebiasaan. Hukum adat juga mempunyai 3 bahagian, iaitu wajib, mustahil dan mumkin. Sesetengah orang jadi keliru antara hukum adat dan hukum akal yang telah kita bahaskan terdahulu.

Apa itu hukum adat ? Hukum adat atau hukum kebiasaan, ialah suatu penetapan atau suatu keputusan yang dibuat berdasarkan hasil yang biasa dialami/diperolehi pada sesuatu kejadian atau perbuatan. Contohnya :

Cth 1 : Bila makan ianya mengenyangkan. Keputusan ialah kenyang terhasil dari perbuatan makan.

Cth 2 : Pisau yang tajam memotong sayur yang lembut. Pisau ada benda atau zat, tajam ialah sifat (ini termasuk dalam hukum akal). Pisau tajam memotong sayur yang lembut. Hasil dari perbuatan memotong sayur yang lembut terpotong. (ini hukum adat)

Cth 3 : Api wajib panas. Kita menghukumkan pada adat api wajib panas sebab pada pengalaman kita , kerana tiap kali kita rasa api, ia merasa panas. Tetapi ianya pada kebiasaan, api sememangnya panas. Adat api sememangnya panas. TETAPI ianya hanya pada kebiasaan dan adat sahaja. SEBAB, akal dapat menghukumkan bahawa api itu mumkiin boleh dirasa tidak panas, sebagaimana Allah kehendaki api tidak menjadi panas dan tidak membakar Nabi Ibrahim AS.

Cth 4 : Manusia wajib ada oksigen untuk bernafas. Ini wajib pada adat, ada oksigen untuk manusia bernafas dan hidup. TETAPI ada juga kisah yang mencarik adat, Nabi Yunus AS, ditelan ke dalam perut ikan Nun, baginda hidup dalam perut ikan Nun dan dalam air laut tanpa oksigen. Sebagaimana diceritakan didalam Surah Al Anbiya' ayat 86 - 88. Kisah ini mencarik adat, secara langsung membuktikan bahawa ianya MUMKIN pada akal, kerana kekuasaan Allah Taa'la. Sebagai Al Khaliq Yang Maha Pencipta, Allah berkuasa melakukan apa sahaja yang mencarik adat. Oleh itu, akal yang waras yang sedar bahawa Allah bersifat dengan KUDRAT dan IRADAT, boleh menerima perkara yang mencarik adat. TETAPI ianya mestilah dibuktikan dengan DALIL dan kajian yang teliti.

Apa itu mustahil pada adat ? Mustahil pada adat ialah sesuatu perkara yang menyalahi adat. Contohnya :

Cth 1 : Manusia mustahil boleh hidup lama ratusan tahun tanpa makan dan minum. Dalam kehidupan biasa, mustahil manusia boleh hidup lama. TETAPI kalau menurut hukum akal pula, mumkin manusia hidup lama tanpa makan dan minum. Seperti kisah Ashabul Kahfi yang hidup selama 309 tahun tanpa makan dan minum. Ianya mustahil pada adat tapi tidak mustahil pada akal ( mumkin pada akal ).

Cth 2 : Manusia mustahil boleh mendengar suara manusia lain dari jarak yang amat jauh. Dalam kehidupan biasa, mustahil kita mampu mendengar percakapan orang lain dari jarak yang jauh tanpa menggunakan peralatan komunikasi. TETAPI kalau menurut hukum akal, harus manusia boleh berhubung antara satu sama lain tanpa menggunakan peralatan komunikasi, sebagaimana Saidina Umar Al Khattab yang berada di Madinah mampu berhubung dengan Sariah dan tenteranya di Parsi (Iran) dan melihat tentera musuh sedang mara ke tempat tentera Islam. Lantas Saidina Umar Al Khattab mengarahkan Sariah dan tenteranya agar segera menaiki gunung dibelakang mereka untuk terselamat dari kepungan musuh.

Apa itu mumkin pada adat ? Mumkin pada adat ialah perkara atau kejadian yang boleh berlaku atau boleh untuk tidak berlaku pada kebiasaan pengalaman kita. CONTOHNYA :

Cth 1 : Langit gelap, boleh jadi akan hujan. Boleh jadi juga tidak akan hujan. Hujan boleh, tak hujan pun boleh.

Cth 2 : Seorang sakit yang masuk ke ICU, boleh jadi akan meninggal dunia. Boleh jadi juga tidak akan meninggal dunia. Salah-satu keadaan boleh berlaku. Hukum adat, adalah hukum yang lumrah terjadi. Namun apabila kita mengambil kira, hukum akal, maka adakalanya hukum adat boleh terbatal. Tak semestinya wajib pada adat, akan menyamai wajib pada akal. Begitu juga. Tak semestinya mustahil pada adat, akan menyamai mustahil pada akal. TETAPI tiap-tiap hukum yang mumkin pada adat, ialah juga hukumnya mumkin pada akal. Lain perkataan, mumkin pada adat adalah sama dengan mumkin pada akal.

Ringkasan
a. Wajib pada adat boleh jadi sama dengan wajib pada akal
b. Wajib pada adat tak semestinya sama dengan wajib pada akal.
c. Mustahil pada adat boleh jadi sama dengan wajib pada akal
d. Mustahil pada adat tak semestinya sama dengan mustahil pada akal
e. Mumkin pada adat boleh jadi sama dengan mumkin pada akal.
f. TETAPI ada juga hukum mumkin pada akal tetapi tidak mumkin pada adat.

Dan perlu diingat, segala hukum WAJIB, MUSTAHIL dan MUMKIN pada adat, kesemuanya adalah MUMKIN pada sisi Allah Taala.

Contohnya : Cth 1 : Seseorang MUSTAHIL pada adat boleh seorang manusia boleh berjalan di atas air tanpa sebarang peralatan, bahkan WAJIB pada adat dia tenggelam. TETAPI hal ini, WAJIB pada adat sahaja, kerana ia MUMKIN pada akal. Sebab Allah Ta’ala berkuasa menjadikan orang itu timbul dan berjalan di atas air tanpa alat-alat tertentu.

Cth 2 : Seseorang MUSTAHIL pada adat boleh hidup 300 tahun tanpa makan dan minum, bahkan WAJIB pada adat dia mati. TETAPI hal ini hanya WAJIB dan MUSTAHIL pada adat, sedangkan pada akal ia MUMKIN. Allah berkuasa menjadikan manusia dan alam ini, maka tidak sukar bagi Allah SWT mengubah adat.

Dalam menghasilkan sesuatu hukum, seseorang perlu dan mesti berpandu kepada DALIL. Sumber kepada dalil-dalil untuk menghasilkan hukum ialah :

a. Al Quran
b. Hadis Nabi Muhammad SAW
c. Akal

Oleh itu, marilah kita renung sejenak. Sejauh mana kita memahami, meyakini dan mengamalkan rukun iman yang enam perkara. Seandainya kita masih lagi pada peringkat "TAHU" tetapi tidak lagi faham, lebih-lebih lagi tidak yakin, maka tidak hairanlah kita masih lagi bergelumang dengan dosa dan kemungkaran.

Bagaimana kita ingin tahu bahawa kita telah yakin dengan ilmu Tauhid yang kita pelajari ? Mudah saja. Kalau kita bersedia mengajarkannya dan menyampaikan kepada saudara-saudara seIslam serta kepada orang yang masih jauh dari Islam untuk mentauhidkan Allah SWT, itulah antara tanda bahawa kita sudah yakin dengan ilmu Tauhid yang kita pelajari.

Insya Allah, kita akan sambung pengajian kita di masa akan datang.

Wallahu a'lam


http://drmatgig.blogspot.com/2005/12/muqaddimah-ilmu-tauhid-part-2.html

Wednesday, 11 January 2012

Belatung------
Belerang------
Belimelli------
Beloklekoo------
Belumde'pa------
Benartongeng------
Bendahara------
Bengkakboro------
Bening------
Beranimateru------
Berapasiaga------
Beraswarek------
Beratmatanek------
Bercandabonga-bonga------
Berdiritettong------
Berhentileppang------
Beringin---------
Beritabarita/kareba------
Berkelahisijagguru------
Bermainmacule-cule------
Bersihmapaccing------
Bersintarassi------
Bertemusiruntuk------
Besarmaloppo------
Besibessi------
Besokbaja------
Betiswiti------
Betultongeng------
Biayaongkoso------
Biawakpararang------
Bibimure------
Bibirwea------
Bicaraada------
Bijaksanamacca------
Bijiwisang------
Bimbang------
Binatangolokolok------
Bintangwetting------
Bisaodding------
Bisupepe------
Bodohdongok------
Bohongbelle------
Bosancau------
Buangabbeang------
Buihbusa------
Bukantennia------
Bukitbulu------
Buktitandrang------
Bukubook------
Bulanketeng------
Bulat/Bundarmalebu------
Bungabubga------
Burungnanu-manuk------
Butauta--



Cabai - ladang
Cacar -
Cacat -sala salang
Cambuk 
Cantik - magello
Capai -rapi
Celaka -bala
Celana - sularak
Celentang
Cemas - maseleng
Cemburu -magempuru
Cengkram-
Cepat - magatti
Cerah-
Cerita-cerita
Cermin-camming
Cetak-mencanak
Cicak-ciccak
Cicip-
Cincin-ciccing
Cingcang
Coba-cobai
Congkak-
Corak-balo
Cubit-kapippi
Cuci-bissa
Cucu
Cuma-
Cukup-kenne
Cukur-ceko
Curi-mennau
Curiga-
Dagu-saddang
Dahulu-yakkoe
Dalam-ilaleng
Dangkal-
Dapat -narapi
Dapur-dapureng
Dari-pole
Dekat-macawek
Delapan-arua
Demam-malasa
Dendang-dendang
Dengan-sibawa
Dengar-magkelinga
Dengkur-mangorok
Depan-yolo
Dewa-dewata
Dia-alena
Diam-mekko
Diatas-iyasek
Didik- piara
Dinas-dinas
Dingin-makaccek